Kelola Sampah Berbasis Komunitas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
mengancam mencabut penghargaan Adipura dari daerah yang tak bisa menjaga
kebersihannya.  Lebih lanjut dikatakan, “jangan sampai, katanya, daerah cuma bebersih menjelang
tim penilai datang, namun setelahnya kembali kacau balau
. (TEMPO Interaktif, Purwakarta, 28 Nov 2010).  Pernyataan keras dari pimpinan tertinggi
negara ini dipahami sebagai kegusaran atas masih dan makin banyaknya kota
megalami masalah dalam upaya menjaga kebersihan secara berkelanjutan. Setelah
event penilaian Adipura, umumnya kembali seperti sediakala, kotor dengan
berserakannya sampah di berbagai sudut kota.
Melihat keadaan pengelolaan
sampah di banyak kota maupun hasil menyimak jalan berfikir banyak pimpinan
pengelola kota, nampaknya problem sampah dan kebersihan ini belum akan berakhir
untuk beberapa tahun kedepan. Kultur dan cara pandang pimpinan kota serta masyarakat
akan sampah bisa dikatagorikan masih primitif. Pada komunitas primitif, karena keterbatasan
ilmu pengetahuan melihat kegunaan dan keterpakaian suatu material, benda
dikatagorikan sampah. Padahal, kini, banyak hasil penelitian dan perkembangan
ilmu pengetahuan telah menuntun kita akan pentingnya material – yang selama ini
dikatagorikan sampah. Bagi masyarakat dan kita yang telah tahu sesuatu itu
memberi manfaat keterpakaian, namun masih juga membuangnya, harus diakui kita
tergolong primitif. Bahkan, dalam nilai agama – yang dianut sebagian besar
warga, kepada manusia demikian digolongkan melakukan perbuatan mubadzir
(sia-sia). Terlebih lagi dari berbuat sia-sia (mubadzir), ketika melakukan
pembuangan sampah ke TPA, malahan justru, menggunakan biaya mengangkut, bongkar
muat, dan menyediakan investasi sarana prasarana. Pengelolaan kebersihan suatu
kota, nampaknya memerlukan ikhtiar lebih dari sekedar pengadaan sarana
prasarana. Kampanye dan advokasi perlu mendapat porsi perhatian pemerintahan
juga. 
Keberhasilan kampanye dan
advokasi di masa lalu dalam masalah sampah pribadi perlu dicontoh. Beberapa
dasawarsa lalu, hampir sebagian masyarakat 
kita juga masih primitif dalam membuang sampah katagori hajat ( tinja,
urine). Bisa dilakukan dimana pun, sungai, selokan, atau sekedar septik tank
buatan sederhana, di tanah kebun belakang rumah. Perkembangan kini, sekurangnya
hampir sedikit yang tetap melakukannya, sebagian besar warga sudah merobah perilaku
dengan, misalnya, membuat septik tank, membuat toilet bagus dan bersih, bahkan
mewah, serta menggunakan jasa kebersihan penyedotan tinja. Sayangnya, sampah
sisa makanan dan kegiatan sehari-hari, yang sebenarnya sama dengan hajat, belum
sebaik diperlakukan sebagaimana hajat. Padahal resiko yang ditimbulkan dari
hajat ( feces) dan sampah sama buruknya, mencemari lingkungan dengan bau,
sumber penyakit dan mengganggu estetika. 
Dengan memahami problematika
sampah seperti diatas, membawa kita kepada keharusan untuk mulai menumbuhkan
nilai, cara pandang dan paradigma baru di masyarakat (komunitas). Pendidikan,
ajakan dan advokasi harus dilakukan secara luas bahwa, cara seseorang
memperlakukan sampah harus disamakan dengan ketika memperlakukan hajatnya.
Ditumbuhkan budaya malu, atau ditumbuhkan nilai-nilai positif adanya nilai kegunaan
dari material yang belum didayagunakan tersebut. Keberhasilan beberapa negara
dalam menanamkan nilai dan paradigma kepada masyarakat (komunitas) dalam
memperlakukan sampah ( sisa makanan, tinja atau feces, urine), bahkan menjadi pupuk organik, patut ditiru. Berikan ruang yang cukup agar komunitas berpartisipasi
dalam mengelola dan memperlakukannya, lepaskan dan serahkan sebagian kewenangan
negara dalam pengelolaan sampah seperti aspek pengelolaan retribusi, perijinan maupun
pemanfaatan anggaran pembangunan. Dukungan masyarakat (komunitas) inilah yang sesungguhnya lebih akan
menopang sukses suatu kota mengelola kebersihannya secara berkelanjutan
(sustainable).
  

5 komentar untuk “Kelola Sampah Berbasis Komunitas”

  1. pupuk organik berbahan tinja sangat bagus, kandungan nutrisi atau hara lebih tinggi dibanding pupuk organik yang berbahan daun maupun kotoran ternak. Hewan ternak hanya makan daun ( herbivora), makanan manusia kan lebih kaya gizi, jadi outputnya akan lebih bagus bagi tanaman……cuma, vektor yang terkandung di tinja harus diurai dulu dengan bakteri pengurai ( probiotik)

  2. apakah model pengolahan di sumber penghasil sampah itu kendalanya banyak pak ? konsepnya bagus, tapi kok kurang terdengar digunakan?

  3. I always spent my half an hour to read this blog's content everyday along
    with a mug of coffee.

    Take a look at my web-site: camping 64 –

Komentar ditutup.